- Nama Pemeran Pendukung: Kamu
Sebuah dongeng dari Isil Armstrong. Yang dibuat cukup untuk didengarkan saja ketika bercerita. Yang atau diminta untuk memahami cerita ini ketika membacanya.
Ada saatnya pasti Aku bergulat dengan ego sendiri, melawan rasa hancur dan terpuruk. Emosiku naik hingga dua kali lipat. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku bahkan bisa teriak histeris tanpa memerdulikan lingkungan. Heran kan? Selamat, Kamu satu langkah mengenal sisi lainku. Akhirnya Kamu bakal heran, karena Aku tidak pernah menunjukan sisi emosionalnya. Aku selalu pura-pura kuat. Aku selalu membuatnya terlihat biasa saja. Aku cape.
Untuk itu, Masih bolehkah Aku menangis lagi? Masih bolehkah mata, hati, dan pikiran ini dibawa sakit? Masih bolehkah Aku mengatakan yang sebenarnya?
Sebanyak apapun Aku menjelaskan dengan kata-kata, sebanyak apapun tangis yang Aku tunjukan, sebanyak apapun itu, Kamu tidak akan bisa mengatasi rasa sakit ini. Sebuah rasa yang Aku alami. Karena ini rasa dari masalahku. Hanya diri sendiri yang bisa mengatasinya.
Kamu, yang melihat tulisan ini, tolong ingat. Bukan-ku tak mengizinkanmu melewati batas, tapi karena Kamu berharga. Aku tidak akan biarkan rasa sakit itu kamu rasakan juga. Jadi tolong, tetaplah bersamaku, jadi teman hidupku. Ulurkan tanganmu dan jabat tanganku ketika Aku sedang bercerita, berikan pundakmu ketika Aku merasa letih menghadapi dunia, tatap mataku dengan tatapan tersenyum, jangan keluarkan air matamu ketika Aku sedang menangis,- usap kepalaku dan ucapkan kata "hadapi" lewat bibir mu, dengan begitu Aku merasa kuat. Kamu, jangan ikut merasa terbebani. Sungguh tidak mudah bukan keinginan hati?
Tapi, ketika hal buruk terjadi lagi, padaku, itu menjadi keputusanmu masih maukah kau bersamaku? Tanda Tanya.

Komentar