Semiotik secara umum ialah Cabang ilmu yang berurusan dengan pengkajian tanda atau bisa dipahami sebagi segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda bisa berupakan objek, peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda. Saussure dalam buku Nurrachman (2015:17) mengatakan “Linguistics is only a part of the general science of semiology; the laws discovered by semiology will be applicable to linguistics, and the latter will circumscribe a well-defined area within the mass of anthropological facts.”
Untuk itu sebenarnya bagi Ferdinand de Saussure ia lebih menekankan ilmu tanda ini sebagai bagian dari Semiologi. Seemiologi itu bisa diartikan sebagi ilmu pengetahuan umum tentang tanda dan tidak hanya sekedar kata tetapi tanda mencakup kata dan konsep. Dengan kata lain tanda adalah kombinasi lain antara konsep dan gambaran akustik.
Didalam ilmu Semiologi, Ia menegaskan bahwa setiap tanda atau yang disebut sebagai tanda linguistic ini dibentuk oleh dua komponen yaitu Signified dan Signifier.
Signifier ialah bunyi dari bahasa, sedangkan untuk Signified ialah konsep gambaran psikologis bunyi yang timbul didalam pikiran. Contoh dari Signifier ialah m/e/j/a dan Signifiednya gambaran psikologis dalam pikiran (bentuk meja langsung begitu saja tergambarkan). Untuk itu hubungannya bersifat arbitrer atau manasuka(suka-suka) karena hubungan antara apa yang anda citrakan sebagai sebuah nama kemudian menjadi gambaran akustik (sangat penting) tidak ada hubungan nya dengan susunan hurufnya m/e/j/a. Hubungan keduanya sangat erat, karena keduanya merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Menurut salah satu sumber (dosen) dalam penjelasannya di matakuliah CCT mengatakan bahwa Ferdinand de Saussure sangat meperhatikan susunan dalam tataran bahasanya seperti The four principles: Binary oppositions. Binary Opposition dipakai dalam teorinya karena menurutnya dalam sebuah hubungan pasti ada yang diunggulkan seprti Signified yang lebih unggul atau diatas Signifier.
Disisi lain C.S Peirce mengungkapkan ‘semiotika’, kata yang sudah digunakan sejak abad kedelapan belas oleh ahli filsafat Jerman Lambert, merupakan sinonim kata logika. Logika harus mempelajari bagaimana orang bernalar. Penalaran, menurut hipotesis Pierce yang mendasar dilakukan melalui tanda-tanda. Tanda-tanda memungkinkan manusia berfikir, berhubungan dengan orang lain dan memberi makna pada apa yang ditampilkan oleh alam semesta. Semiotika bagi Pierce adalah suatu tindakan (action), pengaruh (influence) atau kerja sama tiga subyek yaitu tanda (sign), obyek (object) dan interpretan (interpretant).
Menurut Peirce tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu. Sesuatu itu dapat berupa pengalaman, pikiran, gagasan atau perasaan. Jika sesuatu, misalnya A adalah asap hitam yang mengepul di kejauhan, maka ia dapat mewakili B, yaitu misalnya sebuah kebakaran (pengalaman). Tanda semacam itu dapat disebut sebagai indeks; yakni antara A dan B ada keterkaitan (contiguity). Sebuah foto atau gambar adalah tanda yang disebut ikon. Foto mewakili suatu kenyataan tertentu atas dasar kemiripan atau similarity.
Sumber:
Nurrachman, DIAN. 2016. Contemporary Critical Theory: The Quest and The Question of Science, Art, and Literature. Bandung: Writer Publishing.
Sumber:
Nurrachman, DIAN. 2016. Contemporary Critical Theory: The Quest and The Question of Science, Art, and Literature. Bandung: Writer Publishing.
Komentar