Langsung ke konten utama

Review Film: The Darkest Minds (2018)

÷ The Darkest Minds (2018) ÷

Sutradara: Jennifer Yuh Nelson
Pemain : Amandla Stenberg; Mandi Moore; Harris Dickinson; Patrick Gibson; Skylan Brooks; Miya Cech.
Rating : Masa novelnya seru tapi filmnya tidak seseru itu?

  Satu lagi film dystopia baru, besutan sutradara Jennifer Yuh Nelson yang dirilis pada tahun 2018. Film yang berasal dari sebuah adaptasi novel dengan judul yang sama karya Alexandra Bracken. Sudut pandang yang diambil difokuskan pada anak-anak. Film ini meceritakan anak-anak yang digolongan pada sebuah tingkatan warna, karena warna inilah, jalan cerita mulai dibumbui dengan beragam konflik.
- Hijau yang berarti kecerdasan dasar;
- Biru yang berarti telekinesis; -
- Kuning yang berate bisa memanipulasi listrik;
- Merah yang bearti api;
- Jingga yang berarti dapat mengenadalikan pikiran.

    Pemerintah menjadi dalang dibalik konflik yang terjadi. Pemerintah disana menerapkan sistem dimana anak-anak itu harus dikarantina karena menurutnya sudah terinfeksi penyakit. Terutama anak-anak yang berada di level berwarna merah atau jingga harus dimusnahkan dengan alibi untuk kepentingan negara, karena saking berbahayanya sehingga menjadi ancaman.


  Tentunya hal ini hanya diketahui oleh anak-anak saja, para orangtua serta media menganggap bahwa anak-anak itu dikarantina untuk disembuhkan. Sedangkan yang terjadi ialah kebalikannya. Mereka diperbudak untuk diperkerjakan, digolongkan sesuai warna sehingga ketimpangan diskriminasi terjadi disini, dan tentunya yang paling parah ialah dengan membuatnya mati. Hingga pada akhirnya ada dalam situasi dimana beberapa anak ada yang kabur, melawan dan merencanakan strategi  yang tepat untuk melumpuhkan pihak yang berkuasa dengan kejam. Akankan mereka berhasil?

   Pertama kali diberitakan akan tayang dibioskop, cukup mendapatkan perhatian karena diawal teaser mereka membeberkan bahwa salah satu produser yang menggarap The Darkest Minds berasal dari produser series Netflix yang begitu popular berjudul Stranger Things. Selalin itu ini termasuk film dystopia yang tergolong fresh dalam segi cerita. Akan tetapi, setelah ditonton, film ini mendapatkan kritikan dimana-mana. Bahkan tidak sampai dua minggu film ini ditayangkan. Tidak sesuai ekspektasi. Sutradara tidak berhasil menampilkan kekokohan cerita dystopia yang berfokus pada anak-anak. Eksekusi cerita yang dituangkan terkesan tergesa-gesa. Ketika scene selanjutnya muncul malah akan selalu menimbulkan pertanyaan dan dapat menebak scene selanjutnya. Sutradara kewalahan menyajikan sisi science fiction nya, sehingga kurang pas mengimbagi keseruan pada novelnya.

#ReviewFilm #TheDarkestMinds #JenniferYuhNelson

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Konsep Saussure mengenai Signifier dan Signified dan hubungannya dengan Semiotika.

     Semiotik secara umum ialah Cabang ilmu yang berurusan dengan pengkajian tanda atau bisa dipahami sebagi segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda bisa berupakan objek, peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda. Saussure dalam buku Nurrachman (2015:17) mengatakan “Linguistics is only a part of the general science of semiology; the laws discovered by semiology will be applicable to linguistics, and the latter will circumscribe a well-defined area within the mass of anthropological facts.”               Untuk itu sebenarnya bagi Ferdinand de Saussure ia lebih menekankan ilmu tanda ini sebagai bagian dari Semiologi. Seemiologi itu bisa diartikan sebagi ilmu pengetahuan umum tentang tanda dan tidak hanya sekedar kata tetapi tanda mencakup kata dan konsep. Dengan kata lain tanda adalah kombinasi lain antara konsep dan gambaran akustik. Didalam ilmu Semiologi, Ia menegaskan bahwa setiap tanda atau yang disebut sebagai tanda ...

Review Buku: "Keajaiban Toko Kelontong Namiya" karya Keigo Higashino

÷ Keajaiban Toko Kelontong Namiya (The Miracle of the Namiya General Store) - Keigo Higashino ÷      Tidak seperti toko yang hanya menjual barang dagangan, ada satu toko yang juga menyajikan sebuah sarana konsultasi, yang disebut pelanggannya toko kelontong namiya. Sangat menarik bukan? kapan lagi kita bisa dilayani dengan sebuah saran, dan gratis pula. Sehingga saran yang dibagikan si pemilik toko menjadi lebih membantu, terutama untuk orang-orang yang berkekurangan, uang tentunya.     Semua saran yang diberikan menjadi pertimbangan masak-masak orang-orang yang sedang kesulitan. Karena terkadang meskipun kita punya rencana untuk mengatasi masalah, tapi kita juga butuh keyakinan sehingga bisa menjadi pertimbangan yang tepat. Atau kadang pula berharap dapat saran lain tanpa merasa malu ketika bercerita mengenai berbagai permasalahan yang sedang dihadapi. Iya betul, sarana konsultasi tersebut sangat rahasia, sehingga tidak menyebutkan nama asli me...

Review Buku: THE LITTLE WORLD OF LIZ CLIMO – LIZ CLIMO

÷ karena kita juga bisa menemukan humor and happiness dalam sebuah buku ÷   Sebuah buku yang bukan dihiasi dengan kata-kata, tapi dipenuhi dengan gambar-gambar hewan. Tapi jangan salah gambar-gambar tersebut justru bercerita. Liz sendiri berbagi pengalamannya dengan pembaca kalau dia sendiri tumbuh dengan membuat komik kerajaan binatang, dimana mereka hidup dengan kejenakaan dan dapat menyenangkan hati. Semua karakter yang dibuatnya menjadi bagian dari si seniman. Seperti Dinosaurus yang menjadi temannya. Koala yang menjadi ibunya. Beruang adalah dirinya sendiri. Dan karakter komik pembuli lainnya menjadi bagian kenangan semasa sekolahnya dulu. Semuanya ia representasikan dengan karakter komik bergambar binatang.    Buku ini bisa dilihat dengan perspektif lain, tergantung siapa yang membacanya. Layaknya memandang lukisan di galeri, setiap orang punya ceritanya masing-masing. Liz Climo menyajikan buku ini dengan satu halaman satu cerita. Dari sudut pandangku set...