Chaer (2007:41) berkata, “Indeks adalah tanda yang menunjukan adanya sesuatu yang lain, seperti asap yang menunjukan adanya api.” Contoh lain, suara gemuruh air yang menunjukan adanya sungai atau air terjun.
Menurut Chaer juga (2007:41) ikon adalah tanda yang paling mudah dipahami karena kemiripannya dengan sesuatu yang diwakili. Karena itu, ikon sering juga disebut gambar dari wujud yang diwakilinya. Misalnya, denah jalan, gambar bangunan, tiruan benda atau alam, baik dengan bahan kertas, batu, logam, dan sebaginya. Disini kemunkinan terjadi tumpang tindih antara sebuah ikon dengan lambang. Patung R.A Kartini yang terbuat dari batu atau logam bisa merupakan ikon karena patung itu mewakili R.A Kartininya; tetapi bisa juga patung itu adalah sebagai lambang perjuangan kaum wanita Indonesia. Untuk bisa membedakannya bisa disebut sebagai sebuah system, karena sebuah system itulah yang membedakan ciri atau karakteristik dari sebuah benda.
Saya masih setuju dengan pendapatnya Chaer dalam bukunya Linguistik Umum mengenai symbol (2007:37) dijelaskan sebagai, “Lambang menandai sesuatu yang lain secara konvensional, tidak secara alamiah dan langsung.” Misalnya, Kalau dimulut gang atau dijalan Jakarta ada bendera kuning (entah terbuat dari kertas atau kain), maka kita akan tahu didaerah itu ada orang yang meninggal. Mengapa? Karena secara konvensional bendera kuning dijadikan tanda akan adanya kematian.
Sumber:
Chaer, Abdul.2007. Linguistik Umum. Jakarta: PT Asdi Mahasatya.
Komentar